Perkembangan ilmu bioteknologi dalam dua dekade terakhir telah mendorong lahirnya berbagai inovasi obat berbasis biomolekul. Salah satu kelompok senyawa yang memperoleh perhatian besar adalah peptida bioaktif, yaitu fragmen protein berukuran pendek yang memiliki aktivitas biologis spesifik terhadap berbagai sistem fisiologis tubuh.
Berbeda dengan protein utuh, peptida bioaktif mampu berinteraksi secara selektif dengan reseptor, enzim, maupun molekul target lainnya sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen terapeutik yang lebih efektif dan memiliki efek samping yang relatif lebih rendah.
Di tingkat global, lebih dari seratus obat peptida telah digunakan secara klinis untuk mengatasi berbagai penyakit. Tren ini turut memengaruhi arah penelitian di Indonesia, terutama dalam pemanfaatan kekayaan biodiversitas laut dan perairan tropis sebagai sumber peptida bioaktif baru.
Baca Juga: Peran Peptida Ikan Gabus (Channa striata) untuk Menurunkan Tekanan Darah (Hipertensi)
Apa Itu Peptida Bioaktif?
Peptida bioaktif merupakan rantai pendek asam amino yang umumnya terdiri atas 2–50 residu asam amino. Sebagian besar peptida ini tidak aktif ketika masih menjadi bagian dari protein induknya, tetapi akan menunjukkan aktivitas biologis setelah dilepaskan melalui proses: hidrolisis enzimatik, fermentasi mikroba, pencernaan gastrointestinal, ataupun melalui sintesis kimia dan bioteknologi. Aktivitas biologis suatu peptida ini ditentukan oleh urutan asam amino, panjang rantai, muatan listrik, serta struktur tiga dimensinya.
Mengapa Peptida Menjadi Tren Baru dalam Farmasi?

Dibandingkan obat molekul kecil (small molecules), peptida memiliki beberapa keunggulan, antara lain: afinitas dan spesifisitas tinggi terhadap target biologis; toksisitas sistemik yang relatif rendah; metabolisme yang lebih alami karena tersusun dari asam amino; serta risiko interaksi obat yang lebih kecil.
Di sisi lain, pengembangan obat peptida masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti stabilitas yang rendah terhadap enzim protease, waktu paruh yang singkat di dalam sirkulasi darah, serta bioavailabilitas oral yang rendah. Oleh karena itu, berbagai teknologi penghantaran obat dan modifikasi struktur peptida terus dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan tersebut.
Tantangan Menuju Produk Farmasi dan Prospek Masa Depan
Meskipun potensinya sangat besar, pengembangan peptida bioaktif menjadi produk farmasi masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain: proses isolasi yang kompleks, biaya produksi relatif tinggi, stabilitas peptida yang rendah, serta regulasi yang ketat sebelum memperoleh izin edar dari otoritas pengawas obat.
Perkembangan teknologi sintesis peptida, rekayasa protein, kecerdasan buatan, dan sistem penghantaran obat diperkirakan akan semakin mempercepat lahirnya obat-obatan berbasis peptida. Bagi Indonesia, peluang tersebut sangat menjanjikan karena didukung oleh biodiversitas yang sangat tinggi, meningkatnya kapasitas penelitian bioteknologi dan farmasi yang beriringan dengan perkembangan industri farmasi nasional.
Dengan didukung oleh kolaborasi yang kuat antara akademisi, pemerintah, dan industri, Indonesia berpotensi tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi pengembang produk farmasi inovatif berbasis peptida yang memiliki daya saing di pasar internasional.
Penelitian di Indonesia: Peptida Albumin Channa striata sebagai Kandidat ACE Inhibitor Alami

Salah satu perkembangan penting dalam penelitian peptida bioaktif di Indonesia adalah publikasi oleh Berlian et al. (2023) yang mengeksplorasi potensi albumin ikan gabus (Channa striata) sebagai sumber peptida antihipertensi alami.
Penelitian tersebut diterbitkan pada jurnal Heliyon dan menjadi salah satu studi pertama dari Indonesia yang secara sistematis mengidentifikasi peptida bioaktif hasil hidrolisis albumin ikan gabus serta pengujian aktivitas penghambatan enzim ACE secara in vitro.
Penelitian Berlian et al. memiliki arti penting bagi perkembangan farmasi nasional karena menunjukkan bahwa biodiversitas Indonesia dapat menjadi sumber inovasi obat berbasis peptida. Berbeda dengan sebagian besar penelitian sebelumnya yang hanya mengevaluasi ekstrak protein secara keseluruhan, studi ini berhasil mengidentifikasi peptida spesifik sebagai komponen aktif yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antihipertensi.
Temuan ini juga memberikan nilai tambah bagi komoditas ikan gabus yang selama ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun suplemen kesehatan. Dengan identifikasi peptida bioaktif yang spesifik, pemanfaatan ikan gabus dapat bergeser dari sekadar sumber protein menjadi sumber bahan baku untuk pengembangan obat antihipertensi generasi baru.
Baca Juga: Obat Herbal vs Obat Kimia: Mana Lebih Unggul?
Keterkaitan dengan Tren Penelitian Peptida Bioaktif di Indonesia

Penelitian Berlian et al. mencerminkan arah baru riset peptida bioaktif di Indonesia yang tidak lagi hanya berfokus pada isolasi senyawa, tetapi juga mengintegrasikan berbagai teknologi terkait. Ke depan, strategi ini dapat diterapkan untuk mengeksplorasi peptida bioaktif dari berbagai sumber hayati Indonesia lainnya.
Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan peptida bioaktif alami yang tidak hanya bernilai ilmiah tinggi, tetapi juga memiliki prospek komersial dalam industri farmasi dan pangan fungsional.
Referensi
Berlian, G., Riani, C., Kurniati, N. F., & Rachmawati, H. (2023). Peptide derived C. striata albumin as a natural angiotensin-converting enzyme inhibitor. Heliyon, 9(5), e15958. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e15958
