Konstipasi atau sembelit merupakan salah satu masalah pencernaan yang cukup umum. Kondisi ini ditandai antara lain oleh frekuensi buang air besar yang rendah, feses yang keras dan perlu mengejan keras saat buang air besar. Meskipun terlihat sederhana, konstipasi yang berlangsung lama dapat mengganggu kenyamanan, aktivitas sehari-hari, dan kualitas hidup.
Salah satu pendekatan paling sederhana untuk membantu menjaga kelancaran buang air besar adalah memperbaiki pola makan, terutama dengan meningkatkan konsumsi serat pangan. Serat dapat membantu meningkatkan massa feses, mempertahankan kandungan air dalam feses, memengaruhi konsistensi feses, serta mendukung aktivitas mikroorganisme baik di dalam usus. Bukti klinis secara umum menunjukkan bahwa suplementasi serat dapat meningkatkan frekuensi buang air besar dan memperbaiki konsistensi feses pada orang dengan konstipasi (van der Schoot et al., 2022).
Menariknya, sumber serat tidak hanya berasal dari sayuran, buah, serealia, atau kacang-kacangan. Salah satu sumber yang mulai banyak mendapat perhatian adalah rumput laut hijau Ulva lactuca, yang di Indonesia dikenal antara lain sebagai selada laut atau sea lettuce. Selain dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan, U. lactuca menarik perhatian peneliti karena mengandung berbagai komponen nutrisi dan senyawa bioaktif, termasuk protein, mineral, polisakarida, serta serat pangan.
Salah satu penelitian terhadap U. lactuca kering yang berasal dari perairan Pameungpeuk, Indonesia, menemukan kandungan serat pangan sekitar 28,4% berdasarkan berat kering. Penelitian tersebut juga menemukan kandungan karbohidrat sebesar 58,1%, protein 13,6%, dan lemak hanya 0,19% (Rasyid, 2017).
Mengapa Serat Penting untuk Mencegah Konstipasi?

Secara sederhana, serat pangan adalah bagian dari bahan pangan nabati yang relatif tidak dicerna oleh enzim pencernaan manusia di usus halus. Serat kemudian mencapai usus besar dan dapat memberikan berbagai efek fisiologis. Beberapa jenis serat mampu menyerap atau menahan air, sementara jenis lainnya dapat difermentasi oleh mikrobiota usus. Dalam konteks konstipasi, terdapat beberapa mekanisme penting.
1. Meningkatkan Massa Feses
Serat yang tidak tercerna dapat menambah massa isi usus. Semakin besar volume feses, semakin besar pula rangsangan mekanis terhadap dinding usus untuk melakukan gerakan peristaltik. Dengan kata lain, serat membantu memberikan “isi” yang cukup bagi sistem pencernaan untuk menggerakkan feses menuju rektum. Penelitian sistematis terbaru terhadap 113 uji klinis menunjukkan bahwa peningkatan asupan serat berhubungan dengan peningkatan berat feses dan frekuensi buang air besar serta sedikit memperpendek waktu transit usus (Balk et al., 2026).
2. Membantu Mempertahankan Air dalam Feses
Ini merupakan salah satu mekanisme yang sangat penting. Feses yang terlalu sedikit mengandung air cenderung menjadi keras dan sulit dikeluarkan. Beberapa jenis serat memiliki kemampuan menahan air sehingga membantu mempertahankan kelembapan feses. Karakteristik ini menjadi sangat menarik pada polisakarida yang berasal dari Ulva, khususnya ulvan.
Ulvan: Serat Unik dari Ulva lactuca
Salah satu komponen penting pada Ulva adalah ulvan, yaitu polisakarida larut yang banyak mengandung gugus sulfat dan asam uronat. Selain berperan sebagai komponen struktural, polisakarida ini juga memiliki sifat fisikokimia yang memungkinkan interaksinya dengan air dan sistem pencernaan. Review komprehensif mengenai ulvan menyebutkan bahwa Ulva kaya akan serat pangan, sedangkan ulvan merupakan salah satu komponen serat larut utama yang memiliki berbagai aktivitas biologis (Premarathna et al., 2022).
Secara sederhana, sebagian komponen polisakarida U. lactuca berperan seperti jaringan yang dapat menahan atau mengikat air. Hal itu membuat feses lebih terhidrasi dan tidak terlalu keras yang membuatnya lebih mudah bergerak melalui usus, dan pada akhirnya membuat buang air besar menjadi lebih mudah.
Baca Juga: Apakah Benar Konsumsi Bayam Bermanfaat bagi Ibu Menyusui? Cek Fakta dan Kandungannya!
***

Di Indonesia, penggunaan Ulva lactuca sebagai sumber pangan ditemukan di beberapa produk komersial. Beberapa di antaranya adalah Channa Lakta, Channa Fola, Fitbumin Vilaktin dan Fitbumin Feber, yang merupakan produk suplemen untuk ibu hamil dan menyusui.
Daftar Pustaka
van der Schoot A, Drysdale C, Whelan K, Dimidi E. (2022). The effect of fiber supplementation on chronic constipation in adults: An updated systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. The American Journal of Clinical Nutrition, 116(4), 953–969. https://doi.org/10.1093/ajcn/nqac184.
Rasyid A. (2017). Evaluation of nutritional composition of the dried seaweed Ulva lactuca from Pameungpeuk waters, Indonesia. Tropical Life Sciences Research, 28(2). https://doi.org/10.21315/tlsr2017.28.2.9.
Balk EM, Couch E, Mai HJ, Chen Y, et al., Fiber intake and laxation in people with normal bowel function: A systematic review. (2026). The American Journal of Clinical Nutrition, 123(3), 101212. https://doi.org/10.1016/j.ajcnut.2026.101212.
Premarathna, A.D., Tuvikene, R., Fernando, P.H.P. et al. Comparative analysis of proximate compositions, mineral and functional chemical groups of 15 different seaweed species. Sci Rep 12, 19610 (2022). https://doi.org/10.1038/s41598-022-23609-8.
