Gambar 1 - Mengenal Penyakit Alzheimer dan Statusnya di Indonesia (1)

Mengenal Penyakit Alzheimer dan Statusnya di Indonesia – Part 1

Lupa menaruh kunci, kesulitan mengingat nama seseorang, atau sesekali lupa tujuan ketika memasuki sebuah ruangan merupakan pengalaman yang umum dialami banyak orang. Namun, bagaimana jika seseorang berulang kali melupakan percakapan yang baru saja terjadi, tersesat di lingkungan yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun, atau tidak lagi mampu melakukan kegiatan sehari-hari yang sebelumnya terasa mudah?

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan fungsi kognitif yang perlu diperiksa lebih lanjut. Salah satu penyebabnya adalah penyakit Alzheimer, suatu penyakit neurodegeneratif yang secara bertahap merusak sel-sel otak dan mengganggu kemampuan seseorang untuk mengingat, berpikir, memahami, serta menjalani kehidupan secara mandiri.

Di Indonesia, Alzheimer menjadi isu yang semakin relevan seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia. Persoalannya bukan hanya menyangkut kesehatan individu, tetapi juga kesiapan keluarga, masyarakat, dan sistem pelayanan kesehatan dalam memberikan perawatan yang tepat dan bermartabat.

Baca Juga: Rahasia Sinergi Teripang dan Kunyit: Kombinasi Alami yang Ampuh untuk Sendi dan Imun

Apa Itu Penyakit Alzheimer dan Apa Bedanya dengan Pikun Biasa?

Dalam percakapan sehari-hari, istilah pikun sering digunakan untuk menggambarkan penurunan daya ingat pada orang lanjut usia. Padahal, pikun bukanlah diagnosis medis yang spesifik. Penurunan daya ingat dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari gangguan tidur, stres, depresi, efek obat, hingga penyakit pada otak.

Alzheimer merupakan penyebab demensia yang paling umum. Demensia sendiri adalah kumpulan gejala akibat penurunan fungsi kognitif yang cukup berat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada penyakit Alzheimer, perubahan biologis terjadi di dalam otak, termasuk penumpukan protein beta-amiloid dan perubahan protein tau yang berkaitan dengan kerusakan serta kematian sel saraf. Proses ini dapat berlangsung bertahun-tahun sebelum gejala terlihat jelas.

Gejala biasanya muncul secara perlahan dan memburuk seiring waktu. Pada tahap awal, gangguan yang paling menonjol sering berupa kesulitan mengingat informasi baru. Selanjutnya, penderita dapat mengalami kesulitan berbahasa, merencanakan kegiatan, mengenali tempat, mengambil keputusan, atau mengelola aktivitas sehari-hari.

Karena itu, Alzheimer tidak dapat disamakan dengan proses penuaan normal. Bertambahnya usia memang meningkatkan risiko penyakit ini, tetapi tidak semua orang lanjut usia akan mengalami Alzheimer.

Mengenali 6 Gejala Awal Alzheimer yang Perlu Diwaspadai

Gambar 2 - penyakit Alzheimer

Salah satu tantangan terbesar dalam mengenali Alzheimer adalah gejalanya yang kerap dianggap sebagai bagian biasa dari proses menua. Padahal, perubahan yang berulang, semakin berat, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari perlu mendapat perhatian. Beberapa tanda perkembangan Alzheimer yang patut diwaspadai meliputi:

  1. Sering melupakan informasi yang baru saja diperoleh dan mengulang pertanyaan yang sama.
  2. Kesulitan merencanakan kegiatan, mengatur keuangan, atau menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya dikuasai.
  3. Kebingungan mengenai waktu, lokasi, atau arah perjalanan.
  4. Kesulitan menemukan kata yang tepat atau mengikuti percakapan.
  5. Meletakkan barang di tempat yang tidak biasa dan kesulitan menelusuri kembali langkah-langkah sebelumnya.
  6. Mengalami perubahan suasana hati, kepribadian, motivasi, atau perilaku sosial.

Satu gejala saja tidak serta-merta menunjukkan seseorang menderita Alzheimer. Namun, jika perubahan tersebut terus berulang atau semakin mengganggu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan sangat dianjurkan.

Baca Juga: Riset Teripang Indonesia: Mengungkap Potensi Kekayaan Laut Nusantara – Part 1

Tantangan Diagnosis dan Perawatan Alzheimer Menjadi Perhatian di Indonesia

Meningkatnya harapan hidup merupakan pencapaian penting dalam pembangunan kesehatan. Namun, masyarakat yang hidup lebih lama juga membutuhkan perhatian lebih besar terhadap penyakit kronis dan gangguan yang berkaitan dengan penuaan, termasuk demensia. Di Indonesia, tantangan penanganan Alzheimer berkaitan dengan beberapa hal.

Pertama, pemahaman masyarakat mengenai demensia belum merata. Sebagian orang masih menganggap penurunan daya ingat sebagai konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari usia lanjut sehingga pemeriksaan sering tertunda.

Kedua, akses terhadap pemeriksaan dan layanan perawatan dapat berbeda antarwilayah. Penilaian demensia membutuhkan riwayat kesehatan yang memadai, pemeriksaan fungsi kognitif, evaluasi kondisi fisik dan psikologis, serta pemeriksaan tambahan jika diperlukan untuk mencari penyebab lain yang dapat ditangani.

Ketiga, perawatan sehari-hari masih banyak bertumpu pada keluarga. Anak, pasangan, atau anggota keluarga lain dapat menghabiskan waktu dan tenaga yang besar untuk mendampingi penderita. Beban tersebut dapat meningkat ketika penderita mulai membutuhkan bantuan untuk makan, berpakaian, mandi, atau menjaga keselamatan diri.

Oleh sebab itu, penanganan Alzheimer tidak cukup hanya berfokus pada pasien. Keluarga dan pengasuh juga memerlukan edukasi, dukungan psikologis, kesempatan beristirahat, dan akses terhadap layanan kesehatan.