Gambar 1 - Riset Teripang Indonesia

Riset Teripang Indonesia: Mengungkap Potensi Kekayaan Laut Nusantara – Part 1

Di antara kekayaan hayati laut Indonesia, teripang mungkin bukan organisme yang langsung terlintas ketika kita membicarakan bahan pangan bernilai tinggi atau kandidat bahan obat. Bentuknya sederhana—memanjang seperti mentimun, hidup di dasar laut, dan bergerak relatif lambat. Namun, di balik penampilannya yang tidak menarik tersebut, teripang menyimpan beragam molekul biologis yang menarik perhatian peneliti.

Baca Juga: Albumin untuk Kesehatan Tubuh

Mengenal Teripang Indonesia dan Potensi Holothuria scabra

Indonesia sendiri merupakan salah satu kawasan penting bagi teripang karena perairannya menyediakan habitat bagi beragam jenis Holothuroidea. Salah satu yang paling banyak diteliti adalah teripang pasir (Holothuria scabra), spesies bernilai ekonomi tinggi yang telah lama dimanfaatkan sebagai pangan dan komoditas perdagangan di kawasan Asia. Secara global, H. scabra bahkan merupakan salah satu teripang yang paling intensif diteliti; sebuah kajian komprehensif terbaru menghimpun lebih dari 950 publikasi mengenai biologi, ekologi, biokimia, perikanan, pengolahan, perdagangan, dan budidayanya (Hamel et al., 2022).

Tetapi penelitian teripang di Indonesia tidak berhenti pada persoalan budidaya dan perdagangan. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian peneliti semakin bergeser ke pertanyaan yang lebih menarik: apa sebenarnya yang terkandung di dalam tubuh teripang, dan apa yang dapat dilakukan oleh senyawa-senyawa tersebut?

Dari Hewan Dasar Laut Menjadi “Pabrik” Molekul Bioaktif

Gambar 2 - Riset Teripang Indonesia

Tubuh teripang tersusun atas berbagai komponen biologis yang potensial dimanfaatkan. Penelitian internasional menunjukkan keberadaan peptida, protein, kolagen, polisakarida tersulfatasi, triterpene glycosides atau saponin, lipid, fenolik, serta berbagai mineral. Senyawa-senyawa tersebut telah dilaporkan memiliki beragam aktivitas biologis, antara lain antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antitrombotik, dan aktivitas metabolik tertentu (Wen et al., 2018).

Hal yang menarik adalah bahwa komposisi dan aktivitas biologis tersebut tidak selalu sama antara satu spesies dengan spesies lainnya. Bahkan, asal geografis, musim penangkapan, bagian tubuh yang digunakan, metode ekstraksi, dan proses pengolahan dapat memengaruhi karakteristik senyawa yang diperoleh (Hossain et al., 2023).

Dengan kata lain, istilah “ekstrak teripang” sebenarnya terlalu sederhana. Ekstrak dari dua jenis teripang yang berbeda dapat memiliki komposisi kimia dan aktivitas biologis yang berbeda pula.

Indonesia sebagai Laboratorium Alami Teripang

Keanekaragaman teripang Indonesia memberikan peluang penelitian yang sangat besar. Salah satu contoh penelitian yang cukup menarik dilakukan terhadap 21 spesies teripang Indonesia untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dan antibakterinya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya perbedaan aktivitas yang cukup besar antarspesies. Holothuria atra, misalnya, menunjukkan kapasitas antioksidan paling kuat dalam pengujian yang dilakukan, dengan nilai IC₅₀ sebesar 14,22 ± 0,87 µg/µL pada metode yang digunakan. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi senyawa volatil yang mungkin berhubungan dengan aktivitas biologis menggunakan GC-MS (Nugroho et al., 2022). Temuan seperti ini penting karena memperlihatkan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia bukan sekadar kekayaan jumlah spesies, tetapi juga dapat menjadi sumber keragaman molekul bioaktif.

Penelitian lain terhadap lima spesies teripang dari perairan Lampung juga menemukan aktivitas antibakteri dan antioksidan dari ekstrak dan fraksi yang diperoleh melalui proses ekstraksi serta fraksinasi menggunakan beberapa pelarut (Rasyid et al., 2023). Artinya, teripang Indonesia mulai dipelajari bukan hanya sebagai komoditas perikanan, tetapi sebagai sumber bioprospeksi dari bahan baku laut.

Baca Juga: Ulva lactuca: Rumput Laut Hijau Kaya Serat yang Berpotensi Membantu Mencegah Konstipasi

Daftar Pustaka

  1. Hamel JF, et al. (2022). Global knowledge on the commercial sea cucumber Holothuria scabra. Advances in Marine Biology, 91, 1–286.
  2. Wen J. et al. (2018). Bioactive compounds and biological functions of sea cucumbers as potential functional foods. Journal of Functional Foods, 49, 73–84.
  3. Hossain A, et al. (2023). Sulfated polysaccharides in sea cucumbers and their biological properties: A review. International Journal of Biological Macromolecules, 253, 127329.
  4. Nugroho A, et al., (2022). Antioxidant and antibacterial activities in 21 species of Indonesian sea cucumbers. Journal of Food Science and Technology. DOI: 10.1007/s13197-021-05007-6.
  5. Rasyid A, et al. (2023). Antibacterial and antioxidant activity of sea cucumber extracts collected from Lampung waters, Indonesia. Kuwait Journal of Science, 50(4), 615–621 (2023).