Ikan gabus (Channa striata) mungkin bukan ikan yang paling populer di meja makan masyarakat Indonesia seperti lele, nila, atau ikan mas. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, ikan air tawar ini memiliki pasar yang cukup menarik. Dagingnya digemari, harga jualnya relatif tinggi, sementara kandungan proteinnya dan komponen seperti albumin membuat ikan gabus memiliki nilai tambah yang jauh lebih besar daripada sekadar ikan konsumsi.
Baca Juga: PT MMP Menangkan Dana Riset Peptida Anti-Kanker dari Program RIIM BRIN Gel. 11
Yang menarik, pasar ikan gabus di Indonesia sebenarnya tidak hanya berada di pasar tradisional. Komoditas ini telah berkembang ke berbagai arah: ikan segar, ikan kering, abon dan produk pangan lainnya, benih dan indukan untuk budidaya, hingga bahan baku produk ekstrak albumin dan nutraseutikal. Dengan kata lain, saat ini ikan gabus bukan hanya komoditas perikanan, tetapi berpotensi menjadi komoditas bioekonomi.
Terkait harganya yang tinggi, setidaknya ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan. Pertama adalah ketersediaan yang jauh lebih terbatas dibanding jenis ikan lainnya. Kedua adalah karakteristik dagingnya yang tebal dan ke-khas-an cita rasa yang membuatnya dihargai baik dalam bentuk segar maupun produk olahan. Ketiga adalah persepsi masyarakat terhadap nilai kesehatan ikan gabus.

Ikan gabus dikenal memiliki kandungan protein yang tinggi dan mengandung albumin. Albumin merupakan protein utama dalam plasma darah yang memiliki berbagai fungsi fisiologis penting. Karena itu, sejak lama ikan gabus dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk mendukung pemulihan dan status gizi.
Jika dilihat lebih dekat, pasar gabus Indonesia dapat dibagi menjadi setidaknya lima segmen, yaitu pasar ikan segar, pasar benih dan indukan, pasar produk olahan, pasar bahan baku industri pangan dan nutraseutikal serta pasar ekstrak albumin. Segmen terakhir adalah yang paling menarik, dimana daging ikan gabus tidak hanya dikonsumsi sebagai sumber protein. Komponen protein larut airnya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk berbasis albumin ikan dan produk nutraseutikal.
Semakin berkembangnya industri ikan gabus, semakin penting pula ketersediaan bahan baku gabus yang konsisten. Ketergantungan terhadap tangkapan alam membuat industri sulit melakukan perencanaan jangka panjang. Ukuran ikan tidak selalu seragam, jumlah tangkapan berubah-ubah, lokasi sumber bahan baku tersebar, dan keberlanjutan populasi alam juga menjadi perhatian. Karena itu, pengembangan budidaya menjadi sangat penting.
Salah satu industri ikan gabus yang sudah memiliki fasilitas budidaya ikan gabus sendiri adalah Mega Medica Pharmaceuticals (MMP). Keberhasilan pembenihan dan domestikasi ikan gabus menjadi faktor penting dari pengembangan teknologi pembenihan gabus terus dikembangkan, termasuk melalui pemilihan induk dan sertifikasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) yang sudah dimiliki dan diterapkan oleh MMP semenjak tahun 2023.
Baca Juga: Manfaat Peptida Bioaktif di Bidang Farmasi Indonesia: Signifikansi Penelitian Peptida Ikan Gabus
Budidaya Ikan Gabus: Masa Depan Komoditas Bioekonomi Indonesia
Jika budidaya dapat menghasilkan pasokan yang stabil, teknologi pengolahan dapat menghasilkan produk bernilai tambah, dan industri mampu membangun standar kualitas bahan baku yang konsisten, ikan gabus berpotensi berubah dari komoditas ikan air tawar bernilai tinggi menjadi komoditas bioekonomi Indonesia yang memiliki rantai nilai lengkap.
Di masa depan, mungkin kita tidak lagi melihat gabus hanya sebagai ikan yang hidup di rawa dan sungai, tapi sebagai bahan baku pangan, nutrisi, dan bioproduk bernilai tinggi yang diproduksi secara berkelanjutan.
