Riset Teripang Indonesia: Mengungkap Potensi Kekayaan Laut Nusantara – Part 2

Beberapa komponen yang paling menarik perhatian dari teripang adalah kolagen dan kandungan polisakarida tersulfatasi. Di dekade terakhir, pemanfaatan keduanya mulai banyak dieksploitasi karena dinilai menguntungkan, dimana pengembangan produk farmasi dan produk pangan olahan fungsional dari teripang menjadi fokus pemanfaatan teripang.

Kolagen Teripang: Alternatif Alami untuk Industri Kosmetik dan Biomaterial

Kolagen merupakan protein struktural yang sangat penting bagi jaringan tubuh dan banyak digunakan dalam industri pangan, kosmetik, biomaterial, serta penelitian biomedis. Selama ini, sumber kolagen komersial banyak berasal dari mamalia dan ikan. Teripang menawarkan alternatif dari kelompok hewan laut yang berbeda.

Penelitian mengenai kolagen teripang menunjukkan bahwa kolagen yang diisolasi dari beberapa spesies dapat memiliki karakteristik kolagen tipe I dengan struktur triple helix yang relatif terjaga. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa kolagen dari Holothuria scabra dapat digunakan dalam pengembangan material berbasis film, termasuk setelah dimodifikasi menggunakan transglutaminase (Liu et al., 2025). Menariknya, penelitian yang melibatkan Holothuria atra dari Pulau Pahawang, Indonesia, juga telah mengeksplorasi karakteristik biokimia kolagen teripang serta aktivitas antioksidan dan potensinya dalam konteks neuromodulasi (Rozirwan, 2026).

Potensi ini membuka kemungkinan pemanfaatan teripang dalam bidang yang jauh lebih luas daripada sekadar pangan. Dapat dibayangkan suatu saat limbah atau bagian teripang yang selama ini kurang bernilai dapat diproses menjadi kolagen untuk bahan pangan fungsional, kosmetik, biomaterial, atau material pembawa senyawa aktif.

Baca Juga: Riset Teripang Indonesia: Mengungkap Potensi Kekayaan Laut Nusantara – Part 1

Senyawa Polisakarida Teripang: Potensi Aktivitas Biologis untuk Kebutuhan Medis yang Menjanjikan

Kelompok senyawa lain yang sangat menarik dari teripang adalah polisakarida tersulfatasi, terutama fucosylated chondroitin sulfate (FCS) dan fucan sulfate. Keduanya merupakan polisakarida kompleks yang terdapat pada jaringan teripang. Struktur kimianya tidak sederhana karena aktivitas biologisnya dapat dipengaruhi oleh tingkat sulfasi, posisi gugus sulfat, berat molekul, dan struktur percabangannya (Hossain et al., 2023).

Berbagai penelitian telah melaporkan potensi aktivitas FCS dan polisakarida tersulfatasi lainnya, termasuk aktivitas antikoagulan, antitrombotik, antiinflamasi, antioksidan, antidiabetes, dan antikanker. Namun, penting untuk memahami bahwa sebagian besar temuan tersebut masih berada pada tahap penelitian biokimia, in vitro, atau model hewan. Tantangan penelitian berikutnya adalah membuktikan keamanan, mekanisme kerja, bioavailabilitas, dosis, serta efektivitasnya melalui penelitian yang lebih kompleks dan akhirnya uji klinis apabila kandidat tersebut memang menjanjikan.

Pergeseran Riset Teripang: Dari Ekstrak Kasar Menuju Identifikasi Molekuler

Salah satu perkembangan penting dalam penelitian bahan alam adalah perubahan pendekatan. Pada tahap awal, peneliti sering kali mengambil ekstrak teripang kemudian mengujinya menggunakan metode antioksidan atau antibakteri. Jika aktivitasnya tinggi, ekstrak tersebut dianggap potensial. Namun pendekatan modern tidak berhenti di sana.

Pertanyaan berikutnya adalah: Senyawa apa yang sebenarnya bertanggung jawab terhadap aktivitas tersebut? Untuk menjawabnya, penelitian dapat dilanjutkan dengan fraksinasi, kromatografi, spektrometri massa, NMR, analisis proteomik, atau pendekatan omics lainnya. Setelah molekul kandidat ditemukan, peneliti kemudian dapat mempelajari mekanisme kerjanya secara lebih spesifik.

Pendekatan semacam ini sangat penting bagi penelitian teripang Indonesia. Jika hanya menggunakan istilah “ekstrak teripang memiliki aktivitas antioksidan”, nilai ilmiahnya relatif terbatas. Tetapi apabila penelitian mampu menunjukkan senyawa spesifik → target molekuler → mekanisme → efek biologis, maka peluang pengembangannya menjadi jauh lebih besar.

Baca Juga: Rahasia Sinergi Teripang dan Kunyit: Kombinasi Alami yang Ampuh untuk Sendi dan Imun

Masa Depan Teripang dalam Industri Pangan Fungsional Indonesia

Selain sebagai sumber senyawa farmakologis, teripang juga berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Kajian mengenai teripang menunjukkan keberadaan protein, peptida, polisakarida, lipid, dan berbagai komponen bioaktif yang dapat memberikan nilai tambah dibandingkan sekadar kandungan gizi konvensional (Xu et al., 2018).

Salah satu pendekatan yang menarik adalah menghasilkan hidrolisat protein dan peptida bioaktif. Protein teripang dapat dipecah menjadi fragmen peptida berukuran lebih kecil menggunakan enzim tertentu. Peptida tersebut kemudian dapat diuji untuk berbagai aktivitas biologis. Pendekatan ini sangat menarik bagi Indonesia karena memungkinkan pengembangan produk bernilai tambah dari sumber daya laut lokal, dengan penambahan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dan menguntungkan.

Daftar Pustaka

  1. Rozirwan, et al. (2026). Echinoderm collagen as a neuromodulatory antioxidant: biochemical characterization and molecular interaction with NMDA receptor. Arch Biochem Biophys. 779:110758. doi: 10.1016/j.abb.2026.110758.
  2. Hossain A, et al. (2023). Sulfated polysaccharides in sea cucumbers and their biological properties: A review. International Journal of Biological Macromolecules, 253, 127329.
  3. Xu C. et al. (2018). Bioactive compounds and biological functions of sea cucumbers as potential functional foods. Journal of Functional Foods, 49, 73–84.